
KUPS Serbok Jaboi mengembangkan beragam usaha di Gampong Jaboi mulai dari ekowisata hingga produksi sabun belerang dan teh sarang semut.
Berbagai kegiatan tersebut dikelola melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial
(KUPS) Serbok Jaboi. Pengembangan sejumlah bidang usaha ini membuka peluang
bagi masyarakat untuk memperoleh pendapatan dari sektor wisata maupun
pengolahan produk lokal.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susetya, S.T., M.T., menjelaskan
potensi Gunung Api Jaboi menjadi salah satu aset yang dapat dikembangkan
melalui pembenahan destinasi dan peningkatan fasilitas. Keberadaan Dragon Park
Jaboi dan agrowisata buah naga turut menambah pilihan aktivitas bagi
pengunjung.
Sementara itu, produk sabun belerang dan teh sarang semut menawarkan peluang
usaha di luar layanan wisata. Namun, pengembangan produk membutuhkan perhatian
pada mutu, kemasan, pemenuhan persyaratan yang berlaku, serta strategi
pemasaran.
“Pengembangan produk membutuhkan perhatian pada kualitas, pengemasan,
persyaratan yang berlaku, dan pemasaran agar dapat menjangkau konsumen secara
lebih luas,” ujar Harry, Kamis (22/10/2026).
Pengembangan usaha masyarakat Jaboi turut menjadi pembahasan dalam rapat
bersama jajaran pimpinan Pemerintah Kota Sabang di Kantor Wali Kota Sabang,
Rabu (21/10/2026).
Menurut Harry, Gampong Jaboi pernah meraih prestasi dalam Anugerah Desa
Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Pengembangan kawasan dan usaha masyarakat juga
mendapat dukungan dari sejumlah pihak, antara lain Bank Indonesia, Balai
Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (BPSKL), serta Badan Pengelola Dana
Lingkungan Hidup (BPDLH).
Dukungan lainnya diberikan melalui Program Blended Finance Model
(BFM) di Aceh, hasil kerja sama BPDLH dan WRI Indonesia. Program ini mencakup
pendampingan pengelolaan destinasi, pelatihan pelayanan dan pemanduan wisata,
penyusunan prosedur konservasi Pohon Asuh, serta pengembangan produk berbahan
belerang.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Gampong Jaboi, Hidayatullah,
menyampaikan bahwa pengembangan potensi tersebut perlu diikuti dengan
pengelolaan yang terarah dan dukungan fasilitas yang memadai. Produk lokal juga
membutuhkan mutu yang konsisten dan akses pasar yang lebih luas agar peluang
usahanya dapat berkembang.
Sejumlah kebutuhan kawasan yang masih menjadi perhatian meliputi penyediaan
air bersih, pembenahan akses, penerangan jalan, dan pengamanan di sekitar
kawah. Penentuan prioritas penanganan memerlukan koordinasi antara pemerintah
daerah, kelompok usaha, dan mitra pendamping.
Komentar0