![]() |
| Ketua Dekranasda Kota Sabang Nuri Farisal ikut mempraktikkan pembuatan ecoprint bersama pengrajin binaan di Wisma Zahira, Gampong Kuta Ateuh, Rabu (7/10/2026). |
KABARHI.ID | Sabang - Produk ecoprint buatan pengrajin Sabang didorong tampil lebih rapi dan mengikuti perkembangan selera pasar. Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Sabang, Nuri Farisal, bahkan ikut mempraktikkan pembuatan kain bermotif alami untuk melihat langsung proses produksi sekaligus bagian yang perlu ditingkatkan.
Praktik tersebut berlangsung di Wisma Zahira, Gampong
Kuta Ateuh, Kota Sabang, Rabu (7/10/2026). Nuri hadir bersama Wakil Ketua
Dekranasda Sabang Erwani Meutia, sejumlah ketua organisasi wanita se-Kota
Sabang, perwakilan IPEMI Kota Sabang, serta anggota Dekranasda.
Dalam kegiatan itu, para pengrajin terlebih dahulu
memperagakan proses pembuatan ecoprint. Peserta kemudian mencoba tahapan
pengolahan bahan alami hingga menghasilkan motif pada kain, termasuk Nuri yang
ikut terlibat langsung dalam praktik tersebut.
Keterlibatan ini menjadi kesempatan untuk melihat lebih
dekat teknik produksi yang selama ini dikembangkan para pengrajin binaan
Dekranasda. Menurut Nuri, selain teknik pengolahan dan pewarnaan, penempatan
daun serta komposisi motif turut menentukan tampilan akhir kain.
Ia menilai susunan motif perlu diperhatikan agar hasil
kerajinan terlihat lebih rapi dan menarik. Perbaikan pada detail tersebut
diharapkan dapat meningkatkan kualitas produk sehingga lebih siap dikembangkan
menjadi berbagai barang kerajinan.
“Ecoprint ini kita buat dari daun-daunan yang ada di
Sabang. Daun-daun itu kita proses sampai menghasilkan motif alami di kain. Kita
juga ingin kualitasnya semakin bagus dan motifnya lebih tertata,” kata Nuri.
Bahan baku yang berasal dari lingkungan sekitar menjadi
salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan pengrajin. Beragam jenis daun diolah
untuk menghasilkan pola alami pada kain, yang selanjutnya bisa dikembangkan
menjadi produk dengan fungsi dan desain berbeda.
Saat ini, pemanfaatan ecoprint di Sabang tidak hanya
sebatas kain lembaran. Para pengrajin telah mengolahnya menjadi pakaian, tas,
taplak meja, hingga berbagai produk kerajinan lainnya.
Namun, pengembangan produk juga perlu memperhatikan
perubahan selera konsumen. Nuri meminta pengrajin terus berinovasi, termasuk
menghadirkan model yang dapat menarik minat anak muda tanpa meninggalkan
karakter khas ecoprint.
“Harus kekinian juga karena saat ini bukan ibu-ibu saja
yang memakai ecoprint, tetapi para remaja juga. Jadi model-modelnya harus
kekinian juga. Semua kalangan masuk,” ujarnya.
Menurutnya, kreativitas dalam menentukan model dan
desain dapat membuka peluang agar produk ecoprint digunakan oleh lebih banyak
kelompok konsumen. Dengan pilihan produk yang beragam, kerajinan berbahan alami
tersebut berpotensi menjangkau pasar yang lebih luas.
Nuri juga berharap masyarakat Sabang semakin mengenal
produk ecoprint hasil karya pengrajin lokal. Selain memperluas pengenalan ke
luar daerah, keberadaan produk tersebut perlu diperkuat di pasar lokal agar
masyarakat turut mengetahui dan menggunakan hasil kerajinan daerahnya sendiri.

Komentar0