TpCoGpCiTfO9GpY6GpOpBSdlTA==

KUPS Serbok Jaboi Disiapkan Kembangkan Ekowisata dan Produk Belerang

Pendampingan KUPS Serbok Jaboi mencakup penguatan pengelolaan destinasi, pelatihan pemandu wisata, dan pengembangan produk berbahan belerang.

KABARHI.ID | Sabang – Pengembangan ekowisata Gunung Api Jaboi di Kota Sabang tak hanya diarahkan pada pembenahan fasilitas, tetapi juga peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengelola destinasi dan menghasilkan produk usaha. Upaya ini dilakukan melalui pendampingan KUPS Serbok Jaboi dalam Program Blended Finance Model (BFM) di Aceh.

Program yang digagas melalui kerja sama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) dan WRI Indonesia tersebut mencakup penguatan pengelolaan wisata, pelatihan pemanduan, peningkatan pelayanan pengunjung, hingga pengembangan produk berbahan sumber daya lokal.

Dalam 90 hari pertama, pendampingan akan difokuskan pada verifikasi kebutuhan teknis dan pelaksanaan pelatihan prioritas. Tahap ini diperlukan agar dukungan program sesuai dengan kondisi kawasan dan kebutuhan kelompok usaha di Gampong Jaboi.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susetya, mengatakan koordinasi antarpihak diperlukan untuk memetakan kebutuhan sekaligus menentukan bentuk dukungan yang dapat diberikan setiap lembaga.

Menurut Harry, pengembangan kawasan tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas. Kemampuan masyarakat dalam mengelola destinasi dan menjalankan usaha juga perlu diperkuat agar manfaat kegiatan wisata dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Salah satu perhatian pendampingan adalah kebutuhan fasilitas di kawasan ekowisata Gunung Api Jaboi. Sejumlah usulan yang masuk dalam pembahasan meliputi penyediaan air bersih, perbaikan jalur pendakian, pembangunan jembatan akses, serta pemasangan pagar pengaman di titik rawan sekitar kawah.

Selain itu, terdapat kebutuhan pembenahan fasilitas umum dan penerangan serta pengembangan spot foto interaktif. Verifikasi teknis diperlukan untuk menentukan kebutuhan yang harus diprioritaskan dan langkah penanganan yang memungkinkan dilakukan.

Di sisi lain, KUPS Serbok Jaboi juga didorong meningkatkan keterampilan pemanduan, pelayanan wisatawan, dan pengelolaan destinasi. Penguatan sumber daya manusia ini menjadi bagian penting agar kawasan wisata dapat dikelola lebih terarah dan memberikan pengalaman yang baik bagi pengunjung.

Pendampingan juga menyasar pengembangan produk usaha masyarakat, termasuk sabun dan lulur berbahan dasar belerang. Produk tersebut berpotensi menjadi alternatif usaha yang melengkapi aktivitas wisata, sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengolah sumber daya lokal menjadi barang bernilai tambah.

Program ini turut mencakup penyusunan standar operasional prosedur untuk kegiatan konservasi Pohon Asuh. Dengan demikian, pengembangan usaha dan pariwisata diharapkan tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan.

Melalui pendampingan BFM, KUPS Serbok Jaboi diharapkan mampu memperkuat pengelolaan ekowisata sekaligus mengembangkan usaha masyarakat. Keberhasilan program nantinya akan terlihat dari tindak lanjut kebutuhan teknis, peningkatan keterampilan kelompok, serta perkembangan produk dan kegiatan usaha yang dijalankan.

Komentar0

Type above and press Enter to search.