Ledakan akibat serangan udara Israel yang menargetkan pinggiran selatan Beirut pada 7 November 2024. Foto: AFP
KABARHI.ID I Jakarta - Israel menggempur Lebanon secara besar-besaran pada Rabu (8/4). Serangan ini bahkan disebut yang terbesar sejak eskalasi di Lebanon terjadi.
Mereka menggempur posisi-posisi Hizbullah, yang turut patuh terhadap gencatan senjata Amerika Serikat (AS)-Iran selama 2 pekan.
“Hizbullah sudah mendapat informasi, bahwa kami adalah bagian dari gencatan senjata itu, kami mematuhinya. Tapi, Israel melanggarnya dan justru melaksanakan pembantaian di seluruh Lebanon," kata salah satu anggota parlemen Lebanon dari Hizbullah, Ibrahim al-Moussawi, kepada Reuters, Rabu (8/4).
Menurut catatan Kementerian Kesehatan Lebanon, 112 orang tewas dan 837 luka akibat serangan ini. Serangan ini juga menyasar 100 pos komando Hizbullah yang tersebar dari Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon Selatan.
Sebuah ruangan di dalam rumah yang rusak akibat serangan udara Israel, di tengah meningkatnya permusuhan antara Israel dan Hizbullah, seiring berlanjutnya konflik AS-Israel dengan Iran, di Tyre, Lebanon, Sabtu (4/4/2026). Foto: Adnan Abidi/REUTERS
Sebuah foto menunjukkan bangunan-bangunan yang rusak di lokasi serangan udara Israel semalam yang menargetkan lingkungan Haret Hreik di pinggiran selatan Beirut, Sabtu (14/3/2026). Foto: AFP
di Beirut kekacauan terjadi. Reuters melihat para pemotor memboncengkan mereka yang terluka dan melarikannya ke Rumah Sakit terdekat. Sebab tak ada cukup ambulans di kota itu saat serangan.
Seorang pemimpin asosiasi dokter Lebanon, Elias Chlela mengirim pesan berantai agar semua dokter dari semua kecabangan pergi ke Rumah Sakit terdekat untuk memberi pertolongan. Kebutuhan akan donor darah juga melonjak tajam di Beirut.
Sejauh ini, sejak eskalasi di Lebanon berlangsung ada 1.500 warga Lebanon tewas akibat serangan udara dan darat Israel, termasuk 130 anak-anak dan 100 perempuan. (Sumber : KUMPARAN)



Komentar0