TpCoGpCiTfO9GpY6GpOpBSdlTA==

Karhutla di Kalimantan-Sumatera, Malaysia-Brunei Tempuh Jalur ASEAN Atasi Kabut

Siluet pepohonan terlihat di jalan yang diselimuti kabut asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (20/8/2026). Foto: REINA / AFP

Malaysia dan Brunei Darussalam sepakat menggunakan mekanisme ASEAN untuk menangani persoalan kabut asap lintas batas yang kembali berdampak pada sejumlah wilayah di kawasan.

Kesepakatan ini dicapai ketika karhutla tengah membara di pulau Kalimantan dan Sumatera. Data BNPB pada akhir pekan lalu mengungkap titik api di kedua pulau mencapai ribuan.

Adapun Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengatakan isu kabut asap menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuannya dengan Sultan Brunei Hassanal Bolkiah dalam Konsultasi Pemimpin Tahunan (Annual Leaders' Consultations/ALC) Malaysia-Brunei ke-27 di Bandar Seri Begawan, Sabtu (22/8).

"Kami berdua sepakat menggunakan mekanisme ASEAN sebagai pilihan terbaik. Kami telah meminta Menteri Luar Negeri (Malaysia) Datuk Seri Mohamad Hasan untuk menangani persoalan ini," kata Anwar dalam konferensi pers penutupan kunjungan kerjanya selama dua hari ke Brunei, seperti dikutip dari Bernama.

Sebelumnya pada Jumat (21/8), Mohamad Hasan mengatakan Malaysia akan menggunakan jalur diplomatik di tingkat ASEAN untuk mencari solusi atas persoalan kabut asap lintas batas yang telah memengaruhi sejumlah wilayah di kawasan.

Malaysia melalui Kementerian Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan (NRES) juga akan mengirimkan surat resmi kepada Sekretariat ASEAN dan perwakilan Pemerintah Indonesia dalam waktu dekat.

Kesepakatan Malaysia dan Brunei tersebut muncul ketika kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia, khususnya Sarawak di Pulau Kalimantan, memburuk akibat kabut asap.

Berdasarkan data Malaysian Air Pollution Index Management System (APIMS), indeks polusi udara (API) di Serian, Sarawak, mencapai 190 pada pukul 09.00 waktu setempat, Sabtu (22/8).

Sebanyak 10 wilayah lainnya juga mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat. Kuching mencatat API 182, Samarahan 177, Sarikei dan Sri Aman masing-masing 173, serta Sibu 161.

Sementara itu, API di Bintulu tercatat 157, Samalaju dan Mukah masing-masing 156, serta Miri dan Bukit Rambai di Melaka masing-masing 151.

Dalam sistem API Malaysia, angka 0–50 menunjukkan kualitas udara baik, 51–100 sedang, 101–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, sementara angka di atas 300 masuk kategori berbahaya.

Kabut asap lintas batas merupakan persoalan yang berulang di Asia Tenggara, terutama ketika kebakaran hutan dan lahan terjadi di sejumlah wilayah. Asap dapat terbawa angin melintasi perbatasan dan memengaruhi kualitas udara di negara-negara tetangga. (Sumber : Kumparan) 

Komentar0

Type above and press Enter to search.