TpCoGpCiTfO9GpY6GpOpBSdlTA==

Jejak Perjalanan Haji Nusantara yang Menjadikan Sabang Bagian dari Sejarah Dunia Islam

 

Tahun ini, Pemerintah Kota Sabang mencatat sebanyak 73 jamaah calon haji yang diberangkatkan ke Tanah Suci. Dari jumlah tersebut, sebanyak 69 jamaah tergabung dalam Kloter 2 yang menjadi kelompok keberangkatan paling awal. Sementara itu, masing-masing dua jamaah lainnya masuk dalam Kloter 5 dan Kloter 11 sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan oleh penyelenggara haji.

DI TENGAH gemuruh promosi wisata bahari yang menjadikan Sabang dikenal hingga mancanegara, tersimpan sebuah kisah yang nyaris tenggelam oleh waktu. Kisah itu bukan tentang terumbu karang warna-warni, bukan pula tentang panorama laut yang memesona di Pulau Weh.

Kisah tersebut berbicara tentang ribuan orang yang pernah datang ke Sabang dengan membawa satu tujuan mulia: menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.

Jauh sebelum pesawat terbang menghubungkan Indonesia dengan Arab Saudi dalam hitungan jam, perjalanan menuju Mekkah merupakan petualangan panjang yang penuh risiko. Bagi masyarakat Nusantara pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ibadah haji bukan sekadar perjalanan keagamaan, melainkan perjalanan hidup yang membutuhkan pengorbanan besar.

Mereka harus menempuh lautan luas selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Tidak sedikit yang meninggalkan keluarga tanpa kepastian apakah akan kembali dengan selamat atau tidak.

Dalam perjalanan panjang itulah Sabang memainkan peran yang sangat penting.

Kota yang kini dikenal sebagai destinasi wisata unggulan Aceh tersebut pernah menjadi salah satu simpul utama perjalanan haji Nusantara. Di sinilah ribuan jamaah singgah, beristirahat, menjalani pemeriksaan kesehatan, dan menunggu kepulangan menuju kampung halaman.

Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang di Pulau Rubiah, sebuah pulau kecil yang kini lebih dikenal sebagai surga wisata bawah laut.

Di balik keindahan lautnya, Pulau Rubiah menyimpan salah satu kisah paling menarik dalam sejarah perjalanan haji Indonesia.

Ketika Laut Menjadi Jalan Menuju Mekkah

Pada masa kini, perjalanan ibadah haji identik dengan bandara, pesawat modern, dan sistem transportasi yang serba cepat. Namun kondisi itu sangat berbeda dengan masa lalu.

Arsip foto hitam-putih memperlihatkan suasana ramai di dermaga Pelabuhan Sabang pada masa kolonial. Sejumlah warga tampak berkumpul untuk mengantar maupun menyambut kapal uap yang menjadi salah satu sarana transportasi laut utama, termasuk bagi jamaah haji Nusantara dalam perjalanan menuju Tanah Suci.

Bagi masyarakat Nusantara pada era kolonial, satu-satunya jalur menuju Tanah Suci adalah melalui laut.

Calon jamaah harus meninggalkan kampung halaman dan menempuh perjalanan menuju pelabuhan-pelabuhan besar sebelum akhirnya berangkat menggunakan kapal uap menuju Jeddah.

Perjalanan tersebut memerlukan waktu yang panjang.

Kapal harus melintasi Selat Malaka, Samudra Hindia, Laut Arab, hingga akhirnya tiba di Jazirah Arab. Selama perjalanan, para jamaah menghadapi berbagai tantangan mulai dari cuaca buruk, keterbatasan fasilitas kesehatan, hingga ancaman penyakit yang saat itu masih sulit ditangani.

Meski demikian, semangat untuk menunaikan rukun Islam kelima tidak pernah surut.

Banyak jamaah menjual aset yang dimiliki, mengumpulkan tabungan bertahun-tahun, bahkan menunggu sepanjang hidup demi mewujudkan impian berangkat ke Tanah Suci.

Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perjalanan spiritual yang penuh makna.

Sabang, Gerbang Penting Perjalanan Haji Nusantara

Posisi geografis Sabang yang berada di pintu masuk Selat Malaka menjadikannya lokasi strategis dalam jaringan pelayaran internasional.

Pada masa kolonial Belanda, pelabuhan Sabang berkembang menjadi salah satu titik transit penting kapal-kapal yang melintasi jalur perdagangan dunia.

Kondisi tersebut membuat Sabang juga menjadi bagian dari rute perjalanan jamaah haji.

Kapal yang membawa jamaah dari berbagai daerah di Nusantara kerap singgah di pelabuhan ini. Begitu pula kapal yang kembali dari Arab Saudi menuju Indonesia.

Aktivitas tersebut berlangsung selama puluhan tahun dan menjadikan Sabang memiliki hubungan historis yang kuat dengan perjalanan ibadah umat Islam Indonesia.

Dalam catatan sejarah, ribuan jamaah pernah melewati wilayah ini sebelum melanjutkan perjalanan menuju daerah asal mereka masing-masing.

Karena itulah Sabang bukan hanya bagian dari sejarah maritim Indonesia, tetapi juga bagian dari sejarah perjalanan spiritual bangsa.

Teras dan koridor bangunan barak Karantina Haji di Pulau Rubiah, Sabang, terlihat sepi dan tidak terawat. Bangunan bersejarah ini menjadi jejak penting pelayanan kesehatan bagi jamaah haji pada masa lalu, sekaligus merekam perkembangan awal sistem karantina dan pengendalian wabah di Indonesia.

Lahirnya Karantina Haji di Pulau Rubiah

Meningkatnya mobilitas jamaah melalui jalur laut membawa tantangan tersendiri bagi pemerintah kolonial saat itu.

Perjalanan panjang yang melibatkan ribuan orang dari berbagai negara menimbulkan kekhawatiran terhadap penyebaran penyakit menular.

Kolera, pes, dan sejumlah wabah lain menjadi ancaman serius pada masa tersebut.

Untuk mengantisipasi risiko itu, pemerintah kolonial membangun fasilitas karantina khusus bagi jamaah haji yang kembali dari Tanah Suci.

Pilihan kemudian jatuh pada Pulau Rubiah.

Pulau kecil yang terletak di kawasan Iboih tersebut dinilai ideal karena terpisah dari pusat permukiman dan relatif mudah diawasi.

Di sinilah para jamaah menjalani masa observasi kesehatan sebelum diperbolehkan kembali ke kampung halaman masing-masing.

Fasilitas tersebut kemudian dikenal sebagai Karantina Haji Pulau Rubiah.

Keberadaannya menjadikan Sabang sebagai salah satu pusat pengawasan kesehatan pelayaran internasional yang cukup maju pada zamannya.

Menunggu Kepulangan di Tengah Lautan

Bagi para jamaah, masa karantina bukanlah pengalaman yang mudah.

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Tanah Suci, mereka masih harus menunggu selama beberapa waktu sebelum diperbolehkan pulang.

Sebanyak 68 jamaah yang tergabung dalam Kelompok Terbang (Kloter) 2 tiba kembali di Kota Sabang setelah menunaikan ibadah haji Tahun 1447 Hijriah/2026 M dan disambut melalui prosesi peusijuek di Masjid Agung Babussalam.

Di Pulau Rubiah, para jamaah tinggal dalam kompleks karantina yang sederhana.

Hari-hari mereka diisi dengan pemeriksaan kesehatan, pemantauan kondisi fisik, serta menunggu kepastian keberangkatan menuju kampung halaman.

Meski harus menjalani masa isolasi, banyak di antara mereka yang menjadikan waktu tersebut sebagai momen refleksi setelah menyelesaikan ibadah haji.

Pulau Rubiah pada masa itu menjadi ruang peralihan antara perjalanan suci dan kehidupan sehari-hari yang akan kembali dijalani setelah tiba di rumah.

Di tempat inilah ribuan cerita manusia pernah bertemu.

Cerita tentang kerinduan terhadap keluarga, rasa syukur setelah berhasil menunaikan ibadah, hingga harapan untuk memulai kehidupan baru sebagai seorang haji.

Warisan Sejarah yang Masih Bertahan

Seiring perubahan zaman, fungsi Karantina Haji Pulau Rubiah perlahan berakhir.

Perkembangan teknologi transportasi udara membuat perjalanan laut tidak lagi menjadi pilihan utama jamaah haji.

Aktivitas karantina pun berhenti dan kawasan tersebut memasuki babak baru dalam sejarahnya.

Meski demikian, jejak masa lalu masih dapat ditemukan hingga sekarang.

Sisa bangunan, fondasi, serta berbagai peninggalan lainnya menjadi pengingat bahwa Pulau Rubiah pernah memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah perjalanan umat Islam Indonesia.

Bagi para peneliti dan pemerhati sejarah, kawasan ini merupakan sumber informasi berharga mengenai sistem pelayaran haji pada masa kolonial.

Sementara bagi wisatawan, situs tersebut menawarkan pengalaman yang berbeda dari destinasi wisata pada umumnya.

Menyandingkan Wisata Bahari dan Wisata Sejarah

Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susetya, menilai bahwa keberadaan Karantina Haji Pulau Rubiah merupakan aset sejarah yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bagian dari diversifikasi pariwisata daerah.

Menurutnya, Sabang selama ini dikenal melalui keindahan laut dan wisata bawah air yang telah mendunia.

Namun di balik kekuatan tersebut, Sabang juga memiliki warisan sejarah yang mampu memberikan pengalaman wisata berbeda.

“Wisatawan saat ini tidak hanya mencari tempat yang indah untuk difoto. Banyak yang ingin memahami cerita, sejarah, dan nilai yang terkandung di balik sebuah destinasi. Karantina Haji Pulau Rubiah memiliki potensi besar untuk menjawab kebutuhan itu,” ujarnya.

Haru keluarga yang menunggu kepulangan sanak saudara dari tanah suci usai menunaikan ibadah haji

Ia menjelaskan bahwa pengembangan wisata sejarah dan religi dapat menjadi pelengkap bagi wisata bahari yang selama ini menjadi unggulan Sabang.

Dengan demikian, wisatawan memiliki lebih banyak pilihan aktivitas selama berkunjung ke Pulau Weh.

Menawarkan Pengalaman Wisata yang Lebih Bermakna

Tren pariwisata global menunjukkan bahwa wisata berbasis pengalaman semakin diminati.

Wisatawan tidak lagi sekadar datang untuk melihat objek, tetapi ingin memahami cerita yang melatarbelakanginya.

Konsep inilah yang menjadikan situs-situs bersejarah memiliki nilai strategis dalam pengembangan destinasi modern.

Pulau Rubiah memiliki keunggulan unik karena mampu menggabungkan dua daya tarik sekaligus.

Di satu sisi, wisatawan dapat menikmati keindahan laut yang terkenal hingga mancanegara. Di sisi lain, mereka dapat menelusuri jejak sejarah perjalanan haji Nusantara yang penuh nilai kemanusiaan dan spiritualitas.

Kombinasi tersebut menjadikan Pulau Rubiah memiliki karakter yang tidak dimiliki banyak destinasi lain di Indonesia.

Menjaga Memori Perjalanan Umat

Sejarah Karantina Haji Pulau Rubiah bukan hanya tentang bangunan tua atau catatan administrasi kolonial.

Lebih dari itu, ia adalah bagian dari memori kolektif umat Islam Indonesia.

Di tempat ini pernah berkumpul ribuan orang yang datang dari berbagai penjuru Nusantara dengan satu tujuan yang sama.

Mereka membawa doa, harapan, dan keyakinan yang kemudian menjadi bagian dari sejarah bangsa.

Hari ini, ketika wisatawan menikmati panorama laut Rubiah yang memukau, tidak banyak yang menyadari bahwa pulau kecil tersebut pernah menjadi persinggahan penting dalam perjalanan spiritual terbesar umat Islam.

Jejak itu mungkin tidak lagi terlihat secara utuh.

Namun kisahnya masih hidup.

Tersimpan dalam catatan sejarah, dalam ingatan masyarakat, dan dalam sisa-sisa bangunan yang masih bertahan menghadapi perubahan zaman.

Sabang telah lama dikenal sebagai gerbang wisata bahari Aceh. Namun melalui warisan sejarah seperti Karantina Haji Pulau Rubiah, kota ini juga memperlihatkan wajah lain yang tak kalah menarik.

Wajah sebuah kota yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan iman jutaan umat manusia.

Dan di ujung barat Indonesia itu, sejarah tersebut masih terus menunggu untuk diceritakan kembali kepada dunia.[ADVERTORIAL]

 

Komentar0

Type above and press Enter to search.