
Petugas saat akan membuang sampah di TPA Lhok Batee Sabang
KABARHI.ID | Sabang – Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Sabang menyatakan dukungan terhadap langkah Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) yang tengah membenahi sistem pengelolaan sampah di daerah tersebut. Upaya ini dilakukan menyusul meningkatnya volume timbunan sampah sepanjang 2025.
Ketua DPRK Sabang, Magdalaina, menilai persoalan sampah kini tidak lagi dapat dipandang sebagai isu teknis semata. Menurutnya, pengelolaan sampah telah menjadi agenda strategis daerah yang memerlukan dukungan kebijakan, pengawasan, serta alokasi anggaran yang tepat.
Berdasarkan data DLHK, volume sampah di Sabang selama 2025 mencapai sekitar 4.680 ton atau rata-rata 13 ton per hari. Kondisi tersebut, kata Magdalaina, menjadi indikator bahwa sistem pengelolaan lama yang masih bertumpu pada pola kumpul–angkut–buang tidak lagi memadai untuk jangka panjang.
Ia menyebut DPRK akan memberi perhatian khusus terhadap kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Lhok Batee yang semakin terbatas. Melalui fungsi pengawasan, DPRK akan memastikan berbagai langkah rekayasa teknis yang dilakukan di lokasi tersebut berjalan sesuai standar lingkungan.
Selain itu, DPRK juga akan meminta laporan berkala dari DLHK terkait perkembangan penanganan sampah serta proyeksi daya tampung TPA dalam beberapa tahun ke depan. Langkah ini dinilai penting agar pemerintah daerah dapat mengantisipasi potensi krisis sampah sejak dini.
Magdalaina menilai perubahan pendekatan dari sekadar menimbun sampah menuju sistem pengolahan menjadi langkah yang sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan.
“DPRK akan melihat kebutuhan anggaran secara rasional dan memastikan program yang dijalankan benar-benar efektif dalam menekan volume sampah yang masuk ke TPA,” ujarnya.
Dari sisi legislasi, DPRK Sabang juga membuka peluang untuk memperkuat regulasi pengelolaan sampah berbasis pengurangan dari sumber. Ia menilai komposisi sampah di Sabang yang didominasi sekitar 65 persen sampah organik dapat diatasi melalui kebijakan pemilahan dan pengolahan sejak dari rumah tangga.
Magdalaina menambahkan transformasi sistem pengelolaan sampah juga harus melibatkan partisipasi masyarakat secara luas. Berbagai program seperti komposting, biopori, budidaya maggot, hingga pembuatan eco-enzyme dinilai dapat membantu mengurangi volume sampah sekaligus memberi nilai ekonomi tambahan.[CS]
Komentar0