KABARHI.ID | Sabang – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Sabang, Magdalaina, menilai pengembangan padi gogo dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. Kondisi geografis Sabang yang didominasi lahan kering justru dinilai membuka peluang bagi budidaya padi tanpa sistem irigasi tersebut.
Menurutnya, pendekatan pertanian di wilayah kepulauan seperti Sabang perlu menyesuaikan dengan karakteristik alam setempat. Budidaya padi gogo yang tidak membutuhkan sawah berair dianggap lebih realistis untuk dikembangkan di Pulau Weh.
“Karakter lahan kita memang berbeda dengan daerah lain yang memiliki banyak sawah irigasi. Karena itu perlu inovasi agar potensi lahan kering bisa dimanfaatkan untuk mendukung produksi pangan,” kata Magdalaina, Senin (27/1/2026).
Padi gogo merupakan varietas padi yang ditanam di lahan kering tanpa sistem persawahan. Tanaman ini dikenal cukup adaptif terhadap kondisi tadah hujan maupun kawasan perbukitan sehingga banyak dikembangkan di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur irigasi.
Selama ini, kebutuhan beras masyarakat Sabang masih banyak dipenuhi dari daerah lain seperti Aceh Besar dan Pidie Jaya. Magdalaina menilai ketergantungan tersebut perlu dikurangi secara bertahap melalui optimalisasi potensi produksi lokal.
Dalam fungsi legislasi dan penganggaran, DPRK Sabang membuka peluang untuk memperkuat kebijakan yang mendukung pengembangan pertanian lahan kering. Dukungan anggaran, menurutnya, dapat diarahkan pada program yang memiliki perencanaan jelas dan berorientasi pada peningkatan produksi.
Ia menyebut, program tersebut dapat mencakup penyediaan bibit unggul, bantuan sarana produksi, serta pendampingan teknis bagi petani agar budidaya padi gogo dapat berkembang secara berkelanjutan.
Berdasarkan data Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Aceh, masih terdapat sejumlah lahan marginal di Sabang yang berpotensi dioptimalkan. Pada 2025, pendampingan budidaya telah dilakukan di beberapa titik bersama Dinas Pertanian dan Pangan Kota Sabang sebagai bagian dari upaya peningkatan produktivitas lahan kering.
Beberapa wilayah seperti Cot Abeuk, Balohan, dan Ujong Seuke menjadi lokasi uji tanam varietas unggul, termasuk Bridantara 08 serta padi gogo lokal dari Tangse dan Sigli. DPRK menilai hasil uji coba tersebut perlu terus dievaluasi sebelum diperluas ke wilayah lain.
Selain pengembangan teknologi budidaya, Magdalaina juga menyoroti pentingnya regenerasi petani. Ia berharap generasi muda mulai melihat sektor pertanian sebagai peluang usaha yang menjanjikan di masa depan.[CS]
Komentar0